Share Button

Jika kita berbicara tentang PKS, maka langsung tergambar dibenak kita tentang kumpulan anak – anak muda yang bersemangat, jebolan kampus – kampus ternama, memiliki ideologi islam yang puritan, melek teknologi dan informasi kekinian serta sangat terkoneksi secara virtual. Ciri – ciri tersebut begitu dominan, meski dilapangan juga banyak varian – varian yang menunjukkan keragaman dan kedalaman karakter warga PKS. Potret kader PKS yang bersarung, berpeci, bersorban dll agaknya belum bisa masuk sebagai citra tampilan kader PKS secara umum, kendati jumlahnya tidak sedikit.

Meski kader – kader PKS sangat akrab dengan data dan informasi, namun literatur tentang PKS masih terbilang minim. Jika kita pergi ke toko buku besar seperti Gramedia, paling – paling kita hanya akan menemukan 2 atau 3 buku saja yang mengulas tentang PKS. Hal ini tentu sangat kontras dengan banyaknya buku – buku yang menjadi referensi madah tarbiyah. Meskipun buku – buku tersebut juga menjadi referensi primer untuk menilai PKS, namun perlu diramu dan diracik agar bisa dihidangkan kepada masyarakat umum.

Baca juga  Jelang Rakornas PKS 2017

Mari kita berkaca pada salah satu ormas islam terbesar di Indonesia, yakni NU. Referensi tentang NU sangat melimpah ruah, baik sejarahnya, kiprahnya hingga tokoh – tokohnya. Penulisnya beragam, baik insider maupun outsider. Di internal kadernya, mereka sangat giat untuk memotret apa dan bagaimana NU dalam karya tulis ilmiahnya. Sampai – sampai disuatu perguruan tinggi yang berafiliasi ke NU, para dosen pembimbingnya membuat kebijakan agar tidak menulis skripsi dan desertasi tentang NU. Karena jumlahnya yang sudah sangat banyak. Belum lagi ditambah dengan karya para peneliti lepas, baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Hal ini setidaknya menjadi ruang kosong yang benar – benar harus diisi oleh kader – kader PKS. Pihak luar yang ingin menulis tentang PKS itu sebenarnya cukup banyak. Namun boleh jadi kita juga berusaha menjaga jarak dengan mereka, karena khawatir ada pihak – pihak lain yang ingin menunggangi penelitiannya itu. Dan hal itu sangat bisa dimaklumi, ditengah beragam konspirasi untuk agenda de-parpolisasi. Memberikan data primer kepada pihak eksternal itu memang berbahaya. Ruang kosong ini harus jadi perhatian kader – kader PKS, agar kemandegan narasi sejarah PKS tidak berlanjut dimasa depan. Bukankah kader PKS lebih mengetahui tentang rumahnya sendiri ketimbang orang lain?

Baca juga  Menegaskan Positioning PKS

Banyaknya narasi dan literasi, sedikit banyak mampu memberikan gambaran yang bersifat mainstream, tentang apa, siapa dan bagaimana PKS. Bukan sekedar menghadirkan perjalanan organisasinya, tapi juga kiprah personalnya. Bukan hanya memotret situasi yang bersifat istana sentris (Senayan, Markaz Dakwah Pusat dll), tapi juga merekam kiprah kader pinggiran dan akar rumput. Sumber primer melimpah, akses tak terbatas, kemampuan akademis juga ada. Jika ada halangan, mungkin lebih pada bab niat atau faktor kesibukan dan amanah yang menggunung. Husnudzannya begitu.

Memang tidak semua kader PKS mampu merangkai narasi rumit dan analisis yang njelimet seperti halnya Ust Nandang Burhanudin, Akmal Syafril atau Erwyn Kurniawan. Sebagian besar malah bertipe humoris dan humanis sebagaimana Bu Sri Suharni, seperti yang biasa tergambar dalam tulisan – tulisannya. Tidak mengapa jika semua kader dengan beragam karakter itu ikut berlomba menghadirkan narasi sejarah PKS. Setidaknya, kita mampu menghidangkan menu yang berbeda dan mengundang selera baca masyarakat untuk berkenalan lebih lanjut dengan PKS.

Baca juga  Islam, Kebhinnekaan, dan NKRI

Narasi yang diproduksi oleh pihak insider juga bukan tanpa masalah. Meski menggunakan sumber – sumber primer, tapi pihak luar jelas menilai ada framing tertentu yang sengaja dikembangkan. Lain halnya jika narasi tersebut diproduksi oleh pihak outsider, seperti halnya oleh Burhanudin Muhtadi dll. Mereka dianggap lebih objektif karena bebas kepentingan. Padahal, situasinya kurang lebih sama saja. Menganggap tulisan outsider itu bebas kepentingan itu sama absurdnya dengan menganggap jajaran birokrasi tidak ikut berpolitik. Tapi apapun itu, beragamnya narasi setidaknya bisa menghadirkan pembanding, jika memang tidak bisa saling menguatkan.

Selamat menulis narasi sejarah PKS. Selamat mengenalkan PKS pada Indonesia.

Eko Junianto, SE
Pengamat Politik, Sosial dan Budaya
Tinggal di Cilacap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *